Sebut saja Wahyu usia 20 tahun,dirinya merupakan anak tunggal, berperawakan sedang, berkulit putih. Dirinya bekerja sebagai Cleaning Service di sebuah instansi kesehatan milik daerah.
Wahyu baru saja kenal cewek pendiam kalem dan sangat tertutup. Dirinya kenal juga karena nongkrong rame rame bersama temannya di sebuah caffee.
Kenalan akhirnya bertukan nomor handphone dan berlanjut kepada janjian ketemuan selanjutnya hingga menjadi pacaran.
Sebagai cowok Wahyu penasaran bagaimana pola pergaulan dari ceweknya yang pendiam tertutup dan tidak terlalu aktif di medsos ini.
Curiga dan ingin tahu lebih dalam atas pribadi sebenarnya dari cewek yang baru dikenal, apakah benar cintanya hanya untuknya atau ada pria lain di hari sang kekasih. Salah satu informasi yang akurat adalah menyadap Handphone milik pacarnya.
Kebiasaan wahyu bermain handphone dan berselancar aplikasi tiktok menjadikannya tertarik pada salah satu akun. Akun yang menawarkan jasa untuk menyadap handphone pacar. Persis seperti yang dirinya angan, dengan aplikasi tersebut dirinya akan mengetaui isi percakapan dan teman dari si gadis cantik yang menjadi pacarnya.
Rupanya tawaran ini sangat menarik bagi Wahyu, dirinya merasa perlu membeli aplikasi ini untuk mengintai bagaimana ceweknya berkomunikasi di handphone nya.
Tanpa fikir panjang dirinya menghubungi nomor contak yang tertera di aplikasi tiktok tersebut.
Tawaran yang berujung pada pembayaran untuk pembelian aplikasi menyadap handphone pacar.
Tanpa fikir panjang Wahyu langsung mengirim dana sebesar 200 ribu rupiah. Nominal yang wajar baginya untuk sebuah aplikasi yang dibutuhkannya.
Setelah terkirim nominal tersebut rupanya ada persyaratan lain dari operator tersebut. Wahyu harus membayar uang tambahan agar kunci dari aplikasi tersebut bisa di buka. Dirinya pun menyanggupi untuk mengirimkan uang senilai 1 juta agar aplikasi tersebut bisa di buka.
Rupanya tidak cukup sampai disitu ada kode lain lagi yang harus di buka, harus di bayar terlebih dahulu. Syarat lainnya yang juga mengharuskan Wahyu untuk membayar lagi terus lagi dan lagi membayar sejumlah uang melalui transfer kepada operator tersebut.
Terlebih operator aplikasi tersebut menjanjikan uang yang dikirimkan oleh wahyu untuk membuka kode atau persyaratan lainnya akan dikembalikan 100 persen.
Tak terasa hanya dalam jangka kurang dari 24 jam, Wahyu sudah 8 kali transfer dan mengirimkan uang ke operator tersebut lebih dari 8, 25 juta.
Aplikasi tak didapat, uang tidak kembali, baru dirasakan olehnya. Wahyu baru sadar bahwa telah kena penipuan online.
Uang tabungan yang telah terkumpul lebih dari 10 juta untuk membantu orang tua ibadah umroh akhirnya hanya sisa kurang dari 2 juta.
Atas kasus tersebut akhirnya Wahyu memutuskan untuk melaporkan ke pihak kepolisian. Dengan harapan yang yang dikirim ke operator fiktif teraebut bisa kembali.
Posting Komentar