Salah satunya dari akun bernama Irvan plapon. Dirinya yang mengaku warga setempat mengungkap bahwa pemotongan tersebut karena ada alasan denda tidak pernah ikut kerja bakti lingkungan.
Hal lain yang diungkapkan oleh dirinya karena pemotongan tersebut akan dibagikan kepada para warga yang membutuhkan tapi belum mendapat BLT.
Disisi lain dalam comentnya Irvan plapon menyebut memang ada ketidak cocokan antara RT dan penerima sehingga masalah tersenut terangkat ke media.
Sementara akun bernama shafira fira menanggapi coment tersebut diringa menyebut bahwa pemotongan dengan berbagai alasan termasuk tidak pernah partisipasi dalam kerja bakti sebenarnya juga masuk. Karena bila tidak ada denda menjadikan cemburu bagi warga lain.
Tapi disisi lain dirinya menyayangkan pemotongan tersebut tanpa jalur musyawarah di lingkungan.
Dilema ketua RT sebagai kepanjangan tangan aparatur pemerintah paling mentok, memang sering menuai polemik. Mereka serba salah ketika ada bantuan dan tidak merata bahkan sebagian warga menganggap salah sasaran. Maka pintu masuk gunjingan maupun hujatan adalah para ketua RT.
Terlepas dari adanya pro dan kontra kebijakan yang mengacu kepada masyarakat luas alangkah baiknya jika dibicarakan bersama.
Dimana di beritakan sebelumnya bahwa di salah satu RT di desa Baosan Lor BLT yang diberikan oleh pemerintah senilai 900 ribu rupiah di potong oleh RT dengan nilai yang variatif antara 70.000 sampai 300.000.
Atas pemotongan tersebut kades Parlan menegaskan mencopot RT tersebut dan langsung mengganti dengan yang baru. (Jun/red)
Posting Komentar