"Posesnya sederhana. Buah dipotong kecil, dicampur air dan gula, lalu difermentasi dalam botol. Secara berkala dibuka untuk mengeluarkan gas. Setelah itu, eco enzim siap digunakan,” ujarnya.
Eco enzim terbukti mampu mengurai lemak yang menumpuk di saluran pembuangan. Dengan penggunaan rutin, saluran air menjadi lebih lancar tanpa bahan kimia.
Sisa makanan dan sayuran juga diolah menjadi pupuk organik. Produk ini bahkan sudah dimanfaatkan masyarakat untuk pemupukan tanaman. Praktik ini memastikan tidak ada limbah yang terbuang percuma.
Kepala SPPG Bajang Mlarak, Nahidl Diyan Ilahiy, menyebut inovasi ini sebagai bagian dari komitmen pelayanan yang berkelanjutan. Sejak mulai beroperasi pada 28 Februari 2026, SPPG ini telah melayani sedikitnya 1.680 penerima manfaat di wilayah Bajang dan Mlarak.
Posting Komentar