Peserta Merdeka Run Kecewa, Tidak Ada Penyampaian Lisan Terkait GPS dan Personal Aid Kit, Pelari Anak Juara 2 Diskualifikasi


PONOROGO SW_ Kekecewaan mendalam dialami AR, peserta nomor F10085 dalam ajang Merdeka RUN Ponorogo 2026. Siswi kelas VI SD Negeri 2 Ronowijayan itu harus menerima kenyataan pahit setelah perjuangannya menempuh rute 10 kilometer dan berada di urutan kedua putri berujung pada diskualifikasi.

Yang membuat persoalan ini semakin menyayat bukan sekadar hilangnya kesempatan memperoleh juara. AR merupakan anak usia sekolah dasar yang sebelumnya sudah mendengar namanya diumumkan di panggung utama sebagai peraih posisi kedua. Ia juga disebut telah menerima informasi terkait potensi juara 2.

Kegembiraan seorang anak yang berhasil menyelesaikan lomba kemudian berubah menjadi kekecewaan setelah panitia menyatakan dirinya tidak memenuhi persyaratan peserta.

Panitia menyebut AR tidak memenuhi ketentuan yang telah dipublikasikan melalui Instagram resmi Merdeka RUN 2026, yakni terkait kewajiban membawa Handphone/GPS dan Personal Aid Kit.

“Peserta tidak memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan, walaupun peserta mendapat potensial 2. Sebab peserta kurang persyaratan yaitu Handphone/GPS dan Personal Aid Kit,” terang pihak panitia, Sabtu (22/8/2026).

Bagi orang dewasa, persoalan administratif mungkin dapat dipahami sebagai bagian dari regulasi perlombaan. Namun bagi seorang anak kelas VI SD yang baru saja menyelesaikan lomba 10K, situasinya tentu berbeda.

Anak tersebut telah berlari, berjuang, menyelesaikan rute, kemudian mendengar namanya disebut sebagai peraih posisi kedua. Setelah itu, status tersebut berubah menjadi diskualifikasi.

Orang tua AR, Anang Sastro, mengaku sangat kecewa. Menurutnya, tidak ada penyampaian secara lisan yang secara tegas mengingatkan peserta sebelum start mengenai persyaratan Handphone/GPS dan Personal Aid Kit.

“Anak sudah berjuang menyelesaikan 10K. Namanya bahkan sudah diumumkan sebagai posisi kedua. Kemudian setelah itu dinyatakan tidak memenuhi syarat. Yang saya pikirkan bukan hanya soal hadiah, tetapi bagaimana kondisi mental anak,” ujar Anang.

Menurut Anang, apabila persyaratan tersebut merupakan ketentuan mutlak yang dapat menyebabkan diskualifikasi, seharusnya pemeriksaan dilakukan sebelum peserta diperbolehkan mengikuti perlombaan.

Ia juga mempertanyakan sistem pencatatan waktu yang digunakan dalam lomba. Pada nomor peserta terdapat chip timing dengan keterangan agar tidak dilepas.

“Kalau memang peserta harus menggunakan GPS, lalu apa fungsi chip timing yang terpasang pada nomor peserta? Seharusnya sejak awal ada pemeriksaan dan penjelasan yang jelas kepada peserta,” tegasnya.

Persoalan ini pun menyisakan pertanyaan serius. Apakah seluruh persyaratan benar-benar telah diverifikasi sebelum start? Jika AR memang tidak memenuhi syarat, mengapa peserta tetap diperbolehkan mengikuti lomba, menyelesaikan rute 10K, dan kemudian diumumkan berada di posisi kedua?

Bagi AR, mungkin ini bukan lagi sekadar tentang kalah atau menang:

Ia telah merasakan kebanggaan sebagai seorang anak yang mampu menyelesaikan lomba 10K dan berada di posisi kedua. Namun kebanggaan itu seketika berubah menjadi kekecewaan.

Karena itu, keluarga berharap penyelenggara tidak hanya melihat persoalan ini dari sisi aturan lomba, tetapi juga mempertimbangkan dampak keputusan terhadap mental peserta yang masih anak-anak.

0/Post a Comment/Comments

Dibaca :