Keempat dalang muda tersebut yakni Dylon Maheswara Galih kelas 9B, Akhdan Tantama Prayoga kelas 8H, Nabawy Aura kelas 8F, dan Pradiptagara Nakhla Witama kelas 7C. Mereka membawakan lakon “Sesaji Rajasuya”.
Kepala SMPN 2 Ponorogo, Imam Saifudin, mengatakan pagelaran wayang kulit sengaja dihadirkan sebagai puncak kemeriahan HUT SMPN 2 Ponorogo sekaligus peringatan HUT RI ke 81 ini adalah upaya sekolah mengenalkan sekaligus melestarikan budaya wayang kepada generasi muda.
Pada moment tersebut juga diserahkan penghargaan kejuaraan aneka lomba yang menjadi rangkaian HUT SMPN 2 Ponorogo.
Wayang merupakan budaya adiluhung yang harus terus kita lestarikan. Anak-anak tidak hanya menjadi penonton, tetapi kita beri ruang untuk tampil dan menjadi bagian dari regenerasi seni pedalangan.
Menurut Imam, rangkaian peringatan HUT sekolah dan HUT RI tersebut diharapkan mampu membangun karakter siswa melalui nilai religius, nasionalisme, gotong royong, kepedulian sosial dan kecintaan terhadap budaya.
Imam juga menyampaikan apresiasi kepada Ketua Komite SMPN 2 Ponorogo, H. Sindu Parwoto, atas dukungan dan masukannya terhadap kegiatan sekolah.
Ucapan terima kasih juga diberikan kepada H. Suroto yang turut mendukung pagelaran malam itu, mulai dari penyediaan gamelan, wayang kulit hingga sound system.
Dukungan tersebut, menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak dapat dilakukan sekolah sendirian. Kolaborasi antara sekolah, orang tua, komite dan masyarakat menjadi bagian penting dalam memberikan ruang kepada anak-anak untuk mengenal budaya mereka.
“Harapan kita tahun depan SMP 2 juga bisa menggelar dalang tidak hanya empat. Bahkan mudah-mudahan dalang kondang bisa dihadirkan di sekolah kita,” harapnya.
Ia juga memberikan apresiasi kepada para orang tua siswa kelas VII yang telah mendampingi putra-putrinya. Menurutnya, keterlibatan keluarga menjadi bagian penting dalam membangun kecintaan anak terhadap budaya.
Posting Komentar