Jadilah Lembaga Pendidikan yang Dikenang, Bukan Dibebani Kritik

Baliho 100 tahun pondok modern Gontor terpasang jelang kedatangan Presiden Prabowo Subianto


Ada lembaga pendidikan yang tidak hanya meluluskan siswa, tetapi juga berhasil menanamkan rasa bangga yang dibawa alumninya sepanjang hayat. Salah satu contoh yang kerap menjadi rujukan adalah Pondok Modern Darussalam Gontor. 

Banyak alumninya merasa memiliki ikatan emosional yang kuat dengan almamaternya. Kebanggaan itu tidak lahir hanya karena nama besar, tetapi karena proses pendidikan, keteladanan, kedisiplinan, nilai, dan pengalaman yang mereka dapatkan selama berada di lembaga tersebut.

Semangat seperti itulah yang semestinya menjadi inspirasi bagi setiap pendidik dan lembaga pendidikan.

Jadilah lembaga yang dikenang karena kualitasnya, bukan karena banyaknya persoalan pembiayaan yang diperdebatkan.

Pendidik idealnya menempatkan dirinya sebagai pengabdi. Mengajar bukan semata-mata pekerjaan, apalagi kesempatan untuk menjadikan kebutuhan pendidikan sebagai ruang bisnis. Buku, seragam, kegiatan, maupun kebutuhan lainnya semestinya dikelola secara transparan dan berorientasi pada kepentingan peserta didik.

Seorang pendidik juga bukanlah sosok yang harus pandai bersilat lidah untuk mempertahankan setiap keputusan. Ketika ada kritik dari wali siswa atau masyarakat, yang dibutuhkan bukan sekadar argumentasi untuk membenarkan kebijakan, tetapi kesediaan untuk mendengarkan, mengevaluasi, dan memperbaiki apabila memang terdapat hal yang perlu diperbaiki.

Dalam urusan pembiayaan pendidikan, prinsipnya juga harus jelas. Partisipasi wali siswa yang bersifat sumbangan hendaknya benar-benar berdasarkan kerelaan. Tidak membebani, tidak mematok nominal tertentu, dan tidak menjadikan tenggat waktu sebagai tekanan bagi orang tua.

Justru di sinilah kualitas sebuah lembaga pendidikan diuji.

Buktikan bahwa lembaga tersebut memang berkualitas. Buktikan bahwa pendidiknya berdedikasi. Buktikan bahwa proses pendidikannya memberikan manfaat nyata bagi anak-anak.

Jika kepercayaan itu sudah tumbuh, wali siswa dan masyarakat tidak perlu dipaksa untuk memberikan yang terbaik. Mereka akan dengan sukarela ikut berkontribusi karena merasa memiliki, merasa bangga, dan melihat bahwa apa yang mereka berikan benar-benar kembali untuk perkembangan pendidikan anak-anak.

Lembaga pendidikan yang kuat bukan yang paling banyak menarik biaya, melainkan yang mampu membangun kepercayaan.

Pendidik yang dihormati bukan yang paling pandai mencari pembenaran, melainkan yang mampu memberikan keteladanan.

Dan lembaga pendidikan yang akan dikenang bukan yang membuat wali siswa merasa terbebani, melainkan yang membuat alumninya suatu hari berkata:

“Saya bangga pernah dididik di sana.”

Karena pada akhirnya, warisan terbesar sebuah lembaga pendidikan bukanlah besarnya gedung, mahalnya seragam, atau banyaknya buku yang dijual.

Warisan terbesar adalah karakter anak didik, kualitas alumni, keteladanan para pendidik, serta rasa bangga yang tetap hidup bahkan setelah mereka meninggalkan bangku sekolah.

Oleh  : Dr. Alip Sugianto

Tulisan ini dalam rangka menyambut rapat sekolah dengan wali murid di tahun ajaran baru. Yang selalu berkorelasi dengan pembebanan biaya ke wali siswa. 

0/Post a Comment/Comments

Dibaca :