Perjuangan Ayah Demi Kesembuhan Anak: Rela Jual Harta hingga Keluhkan Lambatnya Bantuan Dinas Sosial



PONOROGO, SW_ Seorang ayah bernama Agung Setiawan warga desa Gandu kepuh Sukorejo yang merupakan orang tua dari Rangga, mengungkapkan perjuangan keras serta keluh kesahnya dalam mengobati sang anak yang tengah mengalami sakit parah.

Demi kesembuhan sang buah hati, Agung mengaku telah mengorbankan seluruh hartanya.

"Sebagai orang tua, saya pengin anak sehat. Apa yang saya punya, tak jual," ujar Agung Rabu (23/9/2026) 

Agung menceritakan bahwa anaknya Rangga yang sakit paru paru dan akhirnya meninggal. Sebelumnya sempat menjalani perawatan di rumah sakit, namun kendala keuangan dan biaya perawatan yang tinggi terus menjadi beban. Kondisi kesehatan anaknya pun dilaporkan semakin menurun dan akhirnya meninggal

Agung bersuara terkait prosedur permohonan bantuan kesehatan di Dinas Sosial (Dinsos). Dirinya menilai pihak Dinsos lambat dan kurang memberikan solusi nyata dalam mendampingi pasien yang membutuhkan penanganan medis mendesak.


​Dirinya telah berkoordinasi dan mengajukan permohonan bantuan kepada Dinas Sosial. Pihak Dinsos sempat menyatakan bahwa berkas permohonan telah diteruskan ke Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), tetapi kenyataannya penanganan tak kunjung terealisasi hingga akhirnya pihak keluarga terpaksa mengurus pengajuan tersebut secara manual.


​"Awalnya dari Dinsos mengatakan sudah dimasukkan dan dikirim surat ke Baznas. Tapi karena lama tidak ada kejelasan dan tindak lanjut, akhirnya saya masukkan sendiri secara manual," ujar Agung. 

​Tak hanya persoalan koordinasi yang lambat, Agung juga menyayangkan sikap dan pernyataan dari oknum pejabat Dinsos (Bu Erni) yang terkesan menyalahkan kondisi pasien saat berobat. 


Sambil menunjukan chat whatsapp Agung menceritakan oknum tersebut mengklaim bahwa pasien baru datang saat kondisinya sudah parah.


​Pernyataan ini dinilai tidak masuk akal oleh pihak keluarga, mengingat mereka justru menghubungi dan meminta pendampingan Dinsos karena kondisi kesehatan sang anak yang mendadak memburuk (drop) usai pulang dari rumah sakit, serta adanya beban tagihan medis yang belum terselesaikan.


​"Kalau dari awal saya tidak butuh bantuan Dinsos, untuk apa saya minta pendampingan? Waktu itu anak saya kondisinya drop setelah seminggu pulang dari RSUD. Saya telepon pihak Dinsos untuk minta pendampingan karena ada persoalan administrasi/tagihan, mengingat saya mandiri dari biaya 10 juta masih bayar 2 juta dan kurang 8 juta," tegasnya.


​Agung meminta adanya evaluasi total terhadap sistem pelayanan sosial dan koordinasi antar-instansi (Dinsos dan Baznas) agar masyarakat kecil yang membutuhkan penanganan medis darurat bisa mendapatkan bantuan secara cepat, tepat, dan empati tanpa terhambat birokrasi.


Dari pengalamannya Agung berharap pihak-pihak terkait dapat lebih peka dan memberikan penanganan yang cepat bagi warga yang sedang membutuhkan bantuan medis darurat.



0/Post a Comment/Comments

Dibaca :