MENAKAR PILKADA PONOROGO 2024 ,DENGAN POTENSI TANDING ULANG SUGIRI SANCOKO VS IPONG MUCHLISSONI

Oleh : Prof (assoc) Alip Sugianto, M. Hum

Utak atik peta politik pada pemilihan kepala daerah khususnya di Ponorogo pada senin (19/5) atau 100 hari menjelang pendaftaran (27-29 agustus 2024) ini memang seru. 
Ini tak lepas dari para tokoh yang sudah mendeklarasikan diri untuk maju di Pilkada Ponorogo 2024-2029. Yang istimewa kemungkinan besar bakal terjadi remach ( tanding ulang) antara Sugiri Sancoko dan Ipong Muchlissoni. Pastinya apabila ini mengerucut menjadi 2 calon akan terjadi 2 kubu yang pada proses menuju pringgitan 1 penuh dengan dinamika. 

Dinamika tersebut, harus dilihat sebagai proses demokrasi yang hidup bergerak dinamis bagi masyarakat Ponorogo. Bila merujuk pada kekuatan kubu yang paling diuntungkan adalah pada incumbent dengan memiliki semua alat organ structural yang bisa dimobilisasi dengan berbagai fasilitas dan program, acara atau kegiatan, tinggal bagaimana mengelola program tersebut dengan cantik dan fair. 

Perihal kinerja incumbent diakui atau tidak sangat bagus dan menonjol atas kinerja selama ini, hal ini terkesan diupayakan dengan semaksimal mungkin dengan segala keterbatasan yang ada. Kinerja tersebut, bisa dilihat pada pembangunan pelayanan maupun pendekatan ke warga. 

Pada kinerja pada waktu 3 tahun pemerintahan pastinya waktu yang tidak sepenuhnya, ditambah lagi hambatan covid yang hampir dipastikan logistik atas pembangunan terpotong sehingga kurang maksimal untuk itu. Di beberapa daerah, celah tersebut dimanfaatkan berbagai pihak untuk bahan “gorengan” pada penggunaan anggaran maupun minimnya pembangunan, tetapi di Ponorogo sulit ditemui.

Dalam waktu yang relative singkat segala simbol kinerja yang tidak bisa dibilang mudah dengan keterbatasan anggaran daerah maupun kucuran pusat tapi, bisa dilakukan dengan maksimal. Hal tersebut misalnya bisa kita lihat para awal pemerintahan, incumbent melakukan berbagai terobosan dengan mempercantik stadion dengan grafiti, gotong royong melakukan faceoff HOS Cokroaminoto nampak cantik dengan segala ornament, Waterfountain di telaga Ngebel, serta Monumen Reyog di Sampung yang sedang proses pengerjaan.

Selain itu, figur incumbent yang erat dan dekat dengan berbagai kalangan masyarakat tentu menjadi nilai tersendiri, hampir seluruh elemen masyarakat maupun organisasi pernah merasakan candaan yang khas dengan sikap yang ramah, incumbent sadar bahwa kekuatan utama pada masyarakat sehingga secara rigid menyapa dan hadir di tengah-tengah masyarakat, tentu tidak seratus persen bisa memuaskan masyarakat, mungkin bagi yang ontra incumbent memerlukan waktu untuk bisa didiskusikan.

Sementara itu, nama yang muncul menjadi rival incumbent adalah Ipong Muchlisoni yang tidak lain adalah Ketua DPD P Nasdem dan bupati periode 2015-2020 yang memiliki pemilih loyal, hal ini muncul beberapa spanduk dan benner dukungan terhadapnya di beberapa wilayah di Ponorogo dengan berbagai jargon seperti “Penak dipimpin pak Ipong” dan “Pak Ipong, tolong benahi Ponorogo” serta banyak lainnya. Nampaknya, Pak Ipong maju lagi ini hampir dipastikan Sembilan puluh persen, tinggal menunggu siapa wakil yang akan diusung dan dari partai apa, mengingat semua partai di Ponorogo tidak bisa mengusung calon sendiri sehingga membutuhkan partai koalisi. Melihat rekam jejak kepemimpinan mantan bupati tersebut cukup banyak seperti revitalisasi Pasar di setiap Kecamatan termasuk pembangunan Pasar Legi, Umroh Gratis bagi Kiai, Gerakan Subuh Keliling, ambulan desa, dana pembangunan jalan, insentif guru madin dan lain sebagainya.

Dari kedua calon tersebut, tentu memiliki plus dan minus masing-masing, tentu semua akan dikembalikan kepada para pemilih selaku pemegang kedaulatan rakyat, menimbang dan belajar dari berbagai pengalaman yang telah terjadi dari Pilkada sebelumnya sangat perlu sebagai upaya memperoleh gambaran komprehensif siapa bupati Ponorogo ke depan. Tentu semuanya ingin membawa Ponorogo lebih baik.

0/Post a Comment/Comments

Dibaca :