Pujiana mendata peternak sapi perah di area Pudak Sooko dengan jumlah lebih dari 10.000 ekor sapi, tidak ada sistem pengolahan limbah. Disebut Pujiana semua bebas tanpa aturan membuang kotoran dengan cara manual. Limbah dibuang sekenanya di aliran air, tidak ada penghitungan biaya untuk pengolahan sebagai usaha yang layak dan limbah diproses agar lingkungan sehat terjaga.
" Sebenarnya sudah satu bulan hujan.. banjir.. ternyata telethong belum bersih, lihat..Biadab para tukangsapi perah" ungkapnya pada video yang diunggahne di media sosial Selasa (2/12/2025)
Dirinya menyayangkan berbagai program yang di gelontorkan pemerintah yang katanya membuat bio gas pengolahan limbah kotoran ternyata tidak menjadi solusi akan pencemaran. Pada sumber air pegunungan yang harusnya jernih bening dan bisa dimaksimalkan dengan kegunaan bagi warga yang baik.
Lebih jauh dirinya menyebut bahwa dampak kotoran sapi yang langsung di buang ke sungai adalah pendangkalan dan pencemaran ekosistem air.
" Habitat kehidupan air maupun air untuk pemenuhan kebutuhan warga menjadi tidak sehat rusak dan menjijikan" jelasnya.
Dirinya sengaja memposting melalui video harapannya bisa viral serta berharap kepada pemerintah baik daerah provinsi maupun pusat pada kementrian lingkungan hidup bisa turun tangan mengatasi pencemaran yang luar biasa ini.
Pujiana juga menyayangkan akan mental masyarakat yang sebenarnya mengetahui perihal parahnya pencemaran sungai di lingkungannya tersebut tapi memilih diam. Membisu acuh dan tak mau tau.
Dirinya menyebut bahwa nilai kepedulian sosial adalah cerminan atas kecerdasan dari perilaku personal masyarakat. (Jun/red)
Posting Komentar