Dirinya sebagai jebolan aktifis PRD (organisasi mahasiswa besutan Budiman Sudjatmiko) berusaha tampil apa adanya. Pakai motor prima dan baju lusuh.
Sukijo yang masih duriah/ keturunan Tegalsari ini bercerita bersama undangan lainnya masuk ke ruang secara bersama hanya terpisah jeda jarak antar meja kurang lebih 2 meter. Sebagian mengenal sebagian juga ada wajah yang asing.
Diperiksa pukul 10.00 jeda sholat jumat lanjut lagi sampai jam 14.00.
Diawal klarifikasi dirinya sempat protes karena panggilan resmi oleh KPK menggunakan nama Sukijo bukan namanya sebenarnya Agus Umar Faruq Sya'bani.
Hal lain yang diingatnya adalah soal pertanyaan bahwa KPK mentracking ada bukti kiriman uang ke HP nya senilai 90 juta.
" Saya dicerca soal transaksi 90 juta yang katanya diendus KPK dari nomer HPnya" jelas Sukijo.
Dirinya meyakini sepenuhnya bahwa tidak pernah ada transaksi itu, meskipun KPK kembali minta ke dirinya untuk mengingat lagi.
" Saya mengira itu pertanyaan jebakan. Karena saya minta tunjukan bukti foto atau lainnya juga tidak ada. Bahkan dialihkan disuruh mengingat apa pernah menerima cash" J
jabarnya.
Sukijo bersikukuh tidak pernah ada transaksi senilai angka tersebut di nomor HP nya. Meskipun dirinya tergabung pada tim alap alap ( relawan pemenangan Sugiri kala itu)
"Saya hanya krucuk, pasukan bawah tidak tahu aliran uang ataupun transaksi pemenangan bupati" jelasnya.
Sukijo menceritalan dirasa belum menemukan point yang diharapkan penyidik KPK beralih untuk hal lain. Melihat dirinya ditinggal dan dalam waktu relatif lama, akhirnya Sukijo memutuskan untuk mencari tempat nyaman diseputaran ruangan untuk tidur.
' Saya tidak ada beban ketakutan, hal yang menakutkan atau saya sembunyikan, saya santai saya tertidur" terangnya.
"Harusnya KPK melihat psikologi orang yang di periksa, pastinya ada kegelisahan, hal aneh ketidaknyamanan kalau ada salah, kalau ada hal ditutupi atau bohong dalam penyampaian. Kalau tidak ada indikasi itu bisa dihentikan" imbuhnya.
Hal lain yang ditanya penyidik KPK soal kedekatan Sukijo dengan Sugiri. Dirinya mengaku tidak pernah interaksi dengan sugiri. Bahkan ngobrol serius juga seingatnya tidak pernah dilakukan.
" Kalau sama bu Lisdyarita, saya akrab, dekat, sering diajak ketemu untuk sekedar ngobrol atau makan bersama' terangnya.
Sukijo dipanggil bersama Imam Basori kepala inspektorat, Bimo Aji, Yudi, Eros, Barno, Supandi, Naryo, Sukeri. (Jun/red)
Posting Komentar