Judha Slamet Sarwo Edhi kepala disbudparpora Ponorogo menjabarkan untuk mensuport persiapan yang matang dan penari terpilih memang butuh biaya tinggi.Tapi tidak serta merta biaya besar akan menjamin meraih penampilan terbaik.
Dirinya meyakinkan bahwa penyelenggaraan Festival Reyog dalam penilaian selalu mengedepankan kwalitas garapan dan dipastikan netral dari kepentingan. Hal ini adalah nilai yang selalu dijunjung tinggi dalam penyelenggaraan Festival Reyog Ponorogo
Dirinya menyebut bahwa adanya grup reyog yang sudah ada persiapan matang sejak awal akan juara dan sebagian seniman juga akan bisa menebak hal tersebut.
" Rumor pada festival reyog yang menang dari grup reyog mana memang santer terdengar, karena memang garapannya memang bagus baik penata musik, pelatih maupun penarinya bukan karena adanya rekayasa" jelasnya.
Dirinya menyebut bukan hal yang mustahil grup reyog yang tampil di festival reyog dengan dana iuran dan gotong royong tidak bisa jadi juara.
Selama penyelenggaraan festival reyog dirinya menyebut sekolah atau universitas juga sering jadi juara, padahal dananya berasal dari iuran gotongroyong dan partisipasi wali murid.
Hal ini menjadi indikasi tidak ada jaminan dana suport dari APBD melimpah kemudian dipastikan menang.
Judha juga menjelaskan tentang nilai intangibel reyog Ponorogo atas raihan ICH UNESCO.
Pertunjukan ini bukan sekadar tontonan, melainkan media pembentuk karakter yang sarat akan nilai-nilai luhur seperti keberanian, ketangguhan, solidaritas, kepemimpinan, dan kecintaan terhadap tanah air.
Dari pengertian diatas maka dalam pementasan reyog khususnya keterlibatan banyak pihak untuk mensukseskan sangat diperlukan baik dari partisipasi maupun semangat gotong royong.
" Sehingga tidak salah jika dalam partisipasi grup reyog yang ikut kompetisi karena iuran giting royong kerjasama dari semua kalangan" ungkap Judha.
Posting Komentar