Bullying MI Al Kausar Durisawo, Siswa Dijegal Teman Hingga Patah Tulang, Wali Nilai Sekolah Tidak Responsif dan Peka Pada Korban

PONOROGO,SW_ Bullying menimpa siswa kelas V MI Al Kausar Durisawo Ponorogo. Atas kejadian tersebut anak berinisial WB mengalami patah tulang akibat dikejar oleh teman sekelasnya dan di jegal saat berlari.

Sebagaimana diungkap oleh ibu korban Selasa (23/6/2026) bahwa anaknya dipaksa mainan sapi sapian dengan dikalungi tali, akhirnya bisa melepaskan tali dan melarikan diri, naas bagi korban dirinya dikejar dan di jegal kakinya hingga mengalami patah dilarikan ke rumah sakit dan di pen. 

Ibu korban mengaku dari pihak sekolah tidak serius dan kurang empati atas kejadian yang menimpa putranya. Bahkan beberapa kali tidak bisa mempertemukan dengan keluarga pelaku. Atas kejadian tersebut pihak sekolah juga tidak segera mendatangkan psikolog seperti yang dijanjikan. bahkan sudah berjalan lebih dari 10 hari pihak sekolah terkesan lepas tangan tidak jelas kelanjutan.

"Kita minta dipertemukan dan minta rekaman CCTV tidak diberi oleh sekolah." jelasnya.

Dirinya berharap sekolah memberikan ruang mediasi untuk kedua keluarga yang bersangkutan, Meminta anak dan murid yang lain aman selama sekolah di sana. Guru diberikan fasilitan untuk memantau anak2 selama disekolahan, Tanggungjawab masalah psikis anak dan tanggungbjaeab biaya pengobatan wildan

Juga lebih responsif dan peduli akan kecelakaan yang mengena kepada anaknya, mengingat kejadian tersebut terjadi disekolah. 

Pihak madrasah sebagaimana disampaikan oleh Juni Siwoharijanto mengaku sudah bertanggung jawab dengan mengantarkan ke rumah sakit untuk penanganan yang serius di waktu terjadi kecelakaan, menunggu hingga selesai dan menawarkan uang pengganti serta jasa psikolog namun korban belum ada konfirmasi. 

"Kita sudah tawarkan tali asih 1.5 juta juga tidak di terima. dirinya mengaku untuk CCTV memang dalam keadaan mati sehingga tidak bisa memberikan." ungkapnya. 

Disinggung adanya kelengahan pihak sekolah dalam mengawasi siswa Ustadz Anto panggilan akrab kepala MI Al Kausar Durisawo mengakui ada kecolongan dari lembaganya.

Sebenarnya para guru sudah cukup banyak, karena pas juga guru sibuk isi rapot dan istirahat sehingga tidak mengontrol siswa" jelasnya.
dirinya menjabarkan kedepan akan menambah jumlah CCTV di madrasah dengan jumlah 36 kelas, 876 siswa dengan 50 guru dan karyawan. 

Endar Riyanto S. I Kom dari LPKPK Ponorogo menyanyangkan kecerobohan sekolah yang harusnya kejadian tersebut bisa diantisipasi.

Dirinya menyebut pengelolaan sekolah dengan jumlah murid ratusan harusnya bisa lebih ekstra dan didukung oleh alat pemantau yang handal. 
Kepedulian pihak sekolah juga dipertanyakan sehingga wali siswa mengeluh dan merasa tidak diperhatikan. 

"Hal ini merupakan kecerobohan sekolah pihak lembaga harusnya lebih peduli komunikatif bisa antisipasi dengan meminimalisir atas peristiwa tersebut dengan mengidentifikasi siswa nakal dan potensi pembuatan yang terjadi" ungkapnya

0/Post a Comment/Comments

Dibaca :