Plt. Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Ponorogo, H. Moh. Thohari, S.Ag., M.H menjelaskan bahwa melalui kepala kasi pendma Dr. Nastain, pihak madrasah diminta untuk segera merapat ke keluarga korban, dalam rangka tabayun menemukan solusi bersama atas ganjalan masalah yang dialami oleh korban maupun keluarganya.
Diceritakan oleh Thohari di ruang kerjanya Rabu (23/6/2026) dari pertemuan yang dihadiri oleh keluarga besar MI Al Kausar Durisawo tersebut yang dilaksanakan di rumah korban telah terjadi islah atau damai dari semua pihak sehingga masalah dianggap selesai.
Kedua belah pihak sama sama menerima atas kejadian tersebut dan pihak madrasah juga menyanggupi untuk komitmen lebih baik dalam pelayanan kepada siswa maupun walinya.
Dirinya juga menyinggung keberadaan lembaga madrasah yang berada di bawah naungan Kemenag berkomitmen untuk melaksanakan program Panca Cinta yang diantaranya adalah cinta diri sendiri dan sesama.
Dimana didalamnya dalam lingkup madrasah komitmen untuk menciptakan lembaga madrasah yang bebas perundungan atau bullying.
" Kita berusaha bersama untuk lebih baik dengan komitmen terhadap pelaksanaan Kurikulum Berbasis Cinta ( KBC) sehingga kedepan madrasah lebih unggul, ramah dan terintegrasi " tegasnya.
Diketahui sebelumnya siswa kelas V MI Kausar inisial WB (12 tahun) mengalami perundungan dari teman sekelasnya hingga mengalami patah tulang.
Hal ini berawal dari permainan sapi sapian meniru momen idul adha, salah satu siswa dijadikan sapi sapian diikat tali. Karena dari awal siswa tersebut tidak berkenan akhirnya melepaskan diri dari jeratan tali dan melarikan diri dari permainan. Sialnya dari teman teman yang lain mengejar mengganjal kaki korban jatuh hingga mengalami patah tulang.
Posting Komentar