Juara Festival Reyog Ponorogo 2026 Sudah Lama Santer Beredar dan Minimnya Peserta Luar Jawa

PONOROGO,SW_ Akhirnya terkuat adanya Sekenario Festival Nasional Reyog Ponorogo setelah banyak rumor menyebut mengenai pengaturan juara dan ternyata benar adanya

Festival Reyog yang niatannya dijadikan  ajang kompetisi, sebagai sarana menunjukan tampilan terbaik sekaligus semangat bersatunya para pelaku seni ternyata ada hasil yang bisa ditebak sebelumnya. 

Rumor keras berhembus jauh waktu sebelum pelaksanaan Festival dimulai kencang berhembus siapa yang akan jadi juara. 

Yang santer salah satunya adalah adanya Reyog Wonogiri yang bakal jadi juara karena adanya keterlibatan team dari sanggar yang terlibat dalam penilaian. 

Juga adanya rumor suport pembiayaan yang besar dengan nilai fantastik. Hasilnya jadi menggondol penghargaan sebagai peringkat 2 penyaji terbaik. 

Demikian halnya dengan Reyog dinas Kebudayaan Provinsi Jawa Timur yang keras di protes karena partisipasi menjadi peserta pada Festival Nasional Reyog Ponorogo

Dinas kebudayaan yang harusnya difungsikan sebagai  pembinaan dan pelindung justru menjadi bagian pada kompetisi. 

Berbagai pendapat dari penggiat seni melihat ini, ada masalah serius yang harus ditanggapi oleh pemkab Ponorogo selaku pemangku even yang digamborkan sekarang Top 10 KEN ( Karisma Even Nusantara) 2026.

Haris salah satu penggiat reyog Simo Budi Utomo melihat bahwa tebakan yang beredar dari awal karena berdasar analisa yang bisa dilakukan. Semua prediksi berdasarkan dari persiapan yang matang dari peserta yang ditebak menjadi juara karena kapasitas mumpunu didukung dengan dukungan pembiayaan yang luar biasa. 

Dirinya menolak jika adanya juri yang tidak independen jadi faktor penyebab juara atau penyaji terbaik bisa ditebak jauh hari sebelum pentas. 

Haris menyebut untuk kompetensi juri juga tidak diragukan, pemkab sudah melibatkan praktisi maupun akademisi maupun tokoh reyog yang sangat berkwalitas dan cukup teruji.  

Dirinya menjabarkan tentang Grup Reyog Singo Ludro yang bakalan jadi juara. Ini tidak lepas dari persiapan yang matang. Lebih dari 6 bulan mereka menyampaikan skenario permainan gerak dan iringan musik untuk tampil di festival. 

Demikian juga dengan tampilnya Reyog Pemkab Wonogiri yang juga berhasil memboyong penampilan terbaik peringkat dua. Ini tidak lepas dari garapan dan penari yang terlibat. 

Lamanya berlatih mengolah garapan kompleksitas seni reyog dengan melibatkan pelaku seni reyog yang kompeten bisa dipastikan jadi jaminan akan pulang menggondol prestasi membanggakan. 

Disisi lain ini butuh nafas panjang bagaimana persiapan yang matang dan lama tentu dibarengi dengan finansial atau pembiayaan yang tidak sedikit. 

" Jadi juara butuh biaya besar , dengan artian garapan yang lama, dengan team kreatif orang orang terpilih yang luar biasa butuh suport yang banyak" jelasnya. 


Diluar hal tersebut Haris yang akrab dipanggil Jabrik menyebut adanya workshop tentang kriteria yang disyaratkan untuk garapan yang handal atau terbaik perlu jauh hari disosialisasikan. 

Sehingga para penggarap tahu kriteria yang diharapkan oleh juri  dengan mengusung konsep dan filosofinya. 

" Dari awal saya sudah sampaikan bahwa tidak bisa TM ( tehnichal meeting) hanya seminggu sebelum pelaksanaan. Karena disana garapan juga sudah selesai, minimal 3 bulan sebelum pelaksanaan, sehingga peserta tahu akan konsep maupun harapan yang ideal dari penjurian. " ungkapnya. 

Haris melihat dari kepesertaan festival yang 3 tahun terakhir terus berkurang juga harus di tanggapi serius,  tidak hanya dibantah karena alasan pendanaan, ada hal lain yang perlu digali lebih dalam faktor apa yang mempengaruhi kepada para peserta. 

" Kita lihat pada even sebelumnya jumlah peserta 47, tahun kemarin berkurang 36,dan  tahun ini 32 grup, kedepan kalau tidak ada perubahan tinggal 21 tersisa itupun delegasi dari kecamatan. Kepesertaan dariluar Jawa juga drastis berkurang. Bahkan untuk tahun ini hanya satu delegasi " jelasnya. 

Even Festival Nasional Reyog Ponorogo ( FNRP) yang dibanggakan Ponorogo rupanya juga berbuah manis hal ini diganjar dengan UCCN UNESCO, penghargaan dari pemerintah pusat dengan masuk top Ten KEN maupun wonderfull Indonesia dan lainnya. 

Yang diyakini bahwa ini tidak hanya ditempeli logo saja dan disebut ratusan kali di saat even, tetapi lebih dari itu adanya suport dari pusat maupun sponsor atau dukungan lainnya sehingga bisa dijadikan hal tersebut sebagai subsidi maupun tambahan reward kepada peserta. 

" Subsidinya 2 juta per team dengan biaya puluhan  bahkan ratusan juta. Dengan hadiah yang juga tidak seberapa, sangat timpang, Bisa berkaca dengan  even ogoh-ogoh di Bali dengan subsidi dan reward yang luar biasa dari pemerintah, sehingga tampilannya semakin tahun semakin memikat wisatawan" jelasnya. 

Reyog Ponorogo sudah punya even yang matang dengan konsep yang terus disempurnakan untuk kebaikan kedepannya.

Progres dan perkembangan sesuai harapan harus jadi semangat bahwa adanya even budaya berkorelasi dengan banyak hal positif tidak hanya angka angka pencapaian yang masih diperdebatkan. (jun/red) 











0/Post a Comment/Comments

Dibaca :