Hal ini tidak lepas dari kedudukan Disbudpar Prov Jawa Timur yang harusnya berperan sebagai pelindung pembina justru sekarang malah diganjar Penghargaan.
Sebagaimana diungkap Wisnu HP. Ketua Dewan Kesenian Ponorogo dan juga pelaku seni Ponorogo ini menjelaskan harusnya peran Pemprov Jatim dalam festival harusnya tidak jadi peserta, mereka secara kelembagaan jadi pelindung pengayom dan pembina.
Ini malah mereka memperlihatkan keberpihakan yang nyata pada grup Reyog yang menang juara 1 di FNRP 2026.
Apa dasar mereka memberikan penghargaan ini tentu tidak adil bila dilihat dari kacamata struktur pemerintahan.
"Jika yang jadi dasar adalah karena berhasil menjadi penampil terbaik penata tari terbaik, penata musik terbaik harusnya grup Reyog yang menang di tahun sebelumnya juga dapat. Mengapa hanya kiyai Lodra saja yang dapat. " ungkapnya
Karena ini masih struktur dalam lingkup provinsi yang ada di dalamnya Pemkab Ponorogo menjadikan masalah beda soal jika yang menang luar jawa Timur dan diberikan penghargaan oleh Gubenur mereka.
Wisnu bersama para penggiat dan sesepuh Ponorogo mengungkap sudah berkirim surat kepada Gubenur Jatim menyoal kepesertaan dan juga adanya potensi intervensi atas berhasilnya grup Reyog Kyai Lodra Jadi penampilan terbaik dan berhak membawa piala presiden. (Jun/red)
Posting Komentar