PONOROGO – Ribuan warga Muhammadiyah memadati halaman Masjid Al Manar Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO), Sabtu pagi, dalam momentum bersejarah Launching Hari Ber-Muhammadiyah yang digagas oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ponorogo. Diperkirakan sekitar 8.000 jamaah hadir mengikuti rangkaian kegiatan yang memadukan pengajian, silaturahmi, seni budaya, hingga bazar UMKM, menjadikan agenda ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah gerakan dakwah yang menyentuh dimensi spiritual, sosial, ekonomi, dan kebudayaan.
Program yang akan diselenggarakan setiap pekan pertama setiap bulan ini menjadi yang pertama di lingkungan Muhammadiyah. Sebanyak 30 stan turut memeriahkan kegiatan, terdiri atas 16 stan dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-Ponorogo dan 14 stan dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang menampilkan beragam produk UMKM, layanan sosial, hingga inovasi pendidikan.
Ketua PDM Ponorogo, Drs. H. Moh. Syafrudin, M.A., dalam sambutannya menegaskan bahwa Hari Ber-Muhammadiyah bukan hanya forum pengajian, melainkan gerakan untuk menghidupkan kembali semangat persyarikatan di tengah masyarakat.
«"Kegiatan ini bukan sekadar thalabul 'ilmi (menuntut ilmu), tetapi juga thalabul ukhuwah untuk memperkuat persaudaraan dan thalabul ghirah untuk membangkitkan semangat ber-Muhammadiyah. Ketiganya harus berjalan beriringan agar dakwah Muhammadiyah semakin hidup dan memberi manfaat bagi umat," ujarnya.»
Menurutnya, Muhammadiyah tidak cukup hanya melahirkan kader yang cerdas secara intelektual. Yang jauh lebih penting adalah melahirkan kader yang memiliki semangat berjuang, memperkuat ukhuwah, dan menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat.
Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Plt. Bupati Ponorogo Lisdyarita, Anggota DPRD Jawa Timur Dr. H. Suli Da'im, M.M., Bendahara PWM Jawa Timur drh. Zainul Muslimin, tokoh Masjid Al Fattah Tulungagung H. Sutrimo, serta Rektor UMPO Dr. Ridho Kurnianto, M.Ag.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua LPCR PM Pimpinan Pusat Muhammadiyah, H. Muhammad Jamaludin Ahmad, S.Psi., Psikolog, memberikan apresiasi khusus kepada Dr. Suli Da'im yang dinilainya konsisten hadir dalam berbagai kegiatan masyarakat.
«"Pak Suli Da'im selalu hadir di setiap kegiatan masyarakat. Inilah yang disebut wakil rakyat yang benar-benar merakyat," ungkapnya.»
Pernyataan tersebut langsung disambut tepuk tangan meriah dari ribuan jamaah yang memenuhi halaman Masjid Al Manar.
Bagi Dr. Suli Da'im, kehadiran dalam berbagai kegiatan masyarakat bukan sekadar memenuhi undangan seremonial, tetapi merupakan bagian dari amanah sebagai wakil rakyat untuk terus mendengar, menyerap aspirasi, sekaligus memperkuat sinergi antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dan masyarakat dalam membangun Jawa Timur.
Dalam tausiyahnya, H. Muhammad Jamaludin Ahmad menjelaskan bahwa Hari Ber-Muhammadiyah dibangun di atas empat tujuan utama, yakni meneguhkan, mencerahkan, menggembirakan, dan memberdayakan.
Meneguhkan diwujudkan melalui pengajian yang memperkuat akidah dan pemahaman Islam berkemajuan. Mencerahkan dilakukan melalui ceramah-ceramah yang membuka wawasan keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Menggembirakan diwujudkan melalui seni budaya yang menjadi media dakwah yang ramah dan membahagiakan. Sementara memberdayakan diwujudkan melalui bazar UMKM sebagai bentuk penguatan ekonomi umat.
Konsep tersebut menggambarkan bahwa dakwah Muhammadiyah tidak hanya berbicara tentang ibadah mahdhah, tetapi juga menyentuh persoalan ekonomi, budaya, pendidikan, hingga kesejahteraan masyarakat.
Ia juga menekankan bahwa kekuatan Muhammadiyah selama lebih dari satu abad bukan semata karena besarnya organisasi, tetapi karena masih banyak kader yang berjuang dengan penuh keikhlasan.
«"Masih banyak orang yang ikhlas di Muhammadiyah, karena itu Allah memanjangkan umur Muhammadiyah. Sebaliknya, jika keikhlasan semakin berkurang, maka kekuatan organisasi pun akan melemah."»
Menurutnya, keikhlasan harus melahirkan amanah. Amanah merupakan buah dari keimanan yang kokoh. Karena itu, keberlangsungan Muhammadiyah sangat ditentukan oleh kualitas iman para kadernya.
Ia kemudian mengutip makna Surah Ibrahim ayat 35 yang menggambarkan doa Nabi Ibrahim agar negerinya menjadi negeri yang aman. Menurutnya, keamanan lahir dari keimanan, dan keimanan akan melahirkan masyarakat yang saling menjaga, saling menguatkan, serta menghadirkan kemaslahatan bagi bangsa.
"Muhammadiyah harus terus menghadirkan manusia-manusia yang bertauhid, ikhlas, amanah, rajin beribadah, memakmurkan masjid, gemar beramal saleh, dan siap berkorban untuk kepentingan umat. Dari nilai-nilai itulah lahir peradaban yang membawa keberkahan bagi Indonesia," tuturnya.
Ia juga mengingatkan kembali peran besar dalam meletakkan fondasi nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan berbangsa. Menurutnya, tauhid bukan hanya menjadi keyakinan pribadi, tetapi harus melahirkan pribadi yang manusiawi, jujur, bertanggung jawab, serta mampu mengabdi kepada masyarakat.
Lebih jauh, ia menyampaikan harapan agar gerakan Hari Ber-Muhammadiyah tidak berhenti di tingkat daerah.
«"Mimpi saya, seluruh cabang dan ranting Muhammadiyah memiliki Hari Ber-Muhammadiyah. Karena kekuatan Muhammadiyah sesungguhnya ada di cabang dan ranting. Dari sanalah dakwah tumbuh, masyarakat dibina, dan Indonesia akan menjadi negeri yang diberkahi Allah SWT."»
Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa masa depan Muhammadiyah bertumpu pada penguatan struktur paling bawah. Cabang dan ranting merupakan ujung tombak dakwah yang bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Launching Hari Ber-Muhammadiyah Ponorogo akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda organisasi. Ia hadir sebagai model gerakan dakwah yang memadukan penguatan akidah, pemberdayaan ekonomi, pelestarian budaya, serta penguatan ukhuwah dalam satu ruang kebersamaan.
Posting Komentar