Keberadaan one way satu jalur memakan korban. Ini viral di beritakan akhir akhir ini. Hal ini tidak lepas dari kasus kecelakaan maut yang memakan korban jiwa.
Adalah pembantu rektor 3 unmuh Ponorogo Elmi Muftiana yang pulang melalui dari jalan thamrin melewati Jalan Mawar yang tidak bisa memotong jalan dengan baik. Diduga juga karena faktor mobil pick up yang melaju kencang hingga terjadi benturan keras antara sepeda motor korban dengan mobil. Tak berapa lama setelah dirawat intensif istri dari Ikhwanul Abrori kepala Sekolah SMA Bakti ini meregang nyawa. Tentu ini duka mendalam bagi semua pihak.
Ditengarai sebagain besar masyarakat karena trafic jalan Sultan Agung yang belum begitu padat ditambah luasan jalur searah menjadikan pengendara menggeber kendaraan lebih cepat. Tentu menjadi kesulitan bagi penyeberang jalan dari sisi timur ke sisi barat.
Alip Sugianto Wakil Ketua ICMI Ponorogo menyesalkan keberadaan one way ini terkesan prematur, terkesan dipaksakan. Hal ini terlihat dari beberapa fasilitas belum memadai.
Selain itu, Hal ini bisa dilihat dari adanya evaluasi berkali kali. Atas keberadaan satu jalur yang arahnya dirubah rubah. "Berarti tidak ada dialog aspiratif atas keputusan ini" Ujarnya
Dirinya juga mempertanyakan esensi satu jalur yang dipaksakan pada sekian banyak jalan. Mulai dari jalan HOS Cokro, Ahmad Dahlan, Sultan Agung, Gajah Mada, Sriwijaya hingga jalan Jend Sudirman.
Pengurus Fokal IMM, ini menjabarkan, Memang bupati ingin memperlihatkan kinerja serius sehingga terkesan membuat gebrakan besar. Dibuat satu jalur. Trotoar di perlebar. Sehingga banyak penjual yang terfasilitasi jualan. Tapi pertimbangan atas bertahapnya realisasi jalur ini perlu difikirkan.
"Kalau istilahnya uji coba tidak harus median jalan yang sudah ideal dihancurkan. Penerapannya bisa perlahan melihat dinamika dan kebutuhan atas jalur lalu lintas yang nyaman. Apalagi dengan hilangnya median jalan juga hilang beberapa fasilitas penerangan jalan, serta hilangan PAD dari iklan" Tegas Alip.
Bahkan dirinya menanti wanti jika bupati tetap ngotot dengan one way perlebaran trotoar. Bisa menjadi batu sandung yang serius dalam periode ke 2 pencalonannya sebagai bupati ponorogo.
Hal ini bisa dilihat selain dari insiden yang sering terjadi berupa kecelakaan juga aksi dari pedagang di seputaran jalur Sultan Agung yang menolak penerapan one way karena mereka mengaku dagangannya menjadi sepi.
"Semua tidak ada kata terlambat atas evaluasi penyempurnaan fasilitas penyeberangan atau hal lain sesuai dengan serapan aspirasi dari masyarakat atas penerapan one way di pusat kota ponorogo." Pungkas Alip
Posting Komentar