Guru SMKS PGRI 2 Ponorogo Endy Bagus Setyawan Ramadhani meraih juara pertama dalam pelatihan pembuatan film dan animasi berbasis kecerdasan buatan (AI) setelah mengangkat legenda Reog Ponorogo menjadi karya animasi digital, Jumat 30 Oktober 2026.
Inovasi tersebut menjadi bukti bahwa teknologi tidak hanya mempermudah proses produksi karya kreatif, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda.
Endy, guru Desain Komunikasi Visual (DKV), mengaku awalnya tidak menyangka pelatihan yang berlangsung selama dua bulan, Agustus hingga Oktober 2026, memberikan pengalaman dan peluang sejauh itu.
Sebab, ia mengira program tersebut hanya sebatas pelatihan peningkatan kompetensi guru seperti sertifikasi pada umumnya.
Namun, peserta ternyata mendapatkan kesempatan mengembangkan kemampuan hingga berpeluang mengikuti pembelajaran lanjutan di luar negeri.
"Saya awalnya mengira pelatihan biasa, seperti sertifikasi guru. Ternyata prosesnya cukup panjang dan hasilnya bisa membuka kesempatan untuk berangkat ke Cina," ujarnya.
Dalam pelatihan tersebut, Endy bersama 49 guru SMK lainnya dibekali keterampilan mengoperasikan teknologi AI untuk menghasilkan gambar, video, hingga animasi.
Salah satu materi penting yang dipelajari adalah menyusun prompt atau instruksi agar hasil visual sesuai dengan konsep yang diinginkan.
Peserta juga dikenalkan dengan WonderClip AI. Melalui aplikasi tersebut, mereka belajar mengubah teks menjadi video serta menyusun rangkaian visual menggunakan fitur kanvas agar cerita yang ditampilkan memiliki kesinambungan.
Proses pembelajaran dilakukan secara daring dengan pendampingan pemateri dari Boke Technology dua kali setiap pekan.
Di luar jadwal tersebut, para guru tetap harus belajar mandiri dan menyelesaikan tugas yang diberikan.
Tantangan muncul ketika kredit penggunaan aplikasi AI habis. Kondisi itu membuat Endy harus mencari alternatif aplikasi lain agar proses pengerjaan gambar dan video tetap berjalan.
Meski begitu, ia merasakan penggunaan AI mampu memangkas waktu produksi.
Pekerjaan yang biasanya membutuhkan keterampilan teknis dan proses cukup panjang dapat dilakukan lebih praktis.
"Harapannya, saya bisa mendapatkan ilmu yang lebih banyak dan memahami penggunaan AI melalui prompt secara lebih mendalam. Tantangannya memang ketika kredit aplikasi habis, sehingga kita harus mencari alternatif dan tetap tekun menyelesaikan karya," tuturnya.
Karya Endy menjadi salah satu yang mendapat penilaian tertinggi dari Boke Technology bersama tim Science Techno Park Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur Aries Agung Paewai mengatakan, pelatihan tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat kompetensi guru vokasi agar mampu mengikuti perkembangan teknologi industri kreatif.
Dari 50 guru yang mengikuti program, sebanyak 15 peserta dengan karya terbaik mendapatkan apresiasi dari Boke Technology.
Mereka juga berkesempatan mengikuti pelatihan lanjutan pembuatan gim berbasis AI.
Program lanjutan tersebut diawali dengan pertemuan secara luring di kantor Dindik Jatim, kemudian diteruskan melalui pembelajaran daring sebagai persiapan mengikuti kompetisi pembuatan gim berbasis AI di Shanghai, Cina, yang direncanakan berlangsung Januari 2027.
"Kerja sama ini kami tindak lanjuti secara bertahap. Tahap pertama, sebanyak 50 guru SMK di Jawa Timur mendapatkan pelatihan, khususnya di bidang DKV dan animasi. Dari pelatihan tersebut, dihasilkan karya akhir berupa video animasi atau film berbasis AI yang mengangkat legenda maupun sejarah Jawa Timur," kata Aries.
Sementara itu, peserta lainnya tetap memperoleh sertifikat pelatihan dan kompetensi dari Boke Technology sebagai bentuk pengakuan atas keterampilan yang telah dipelajari.
Aries menegaskan, penguasaan teknologi menjadi salah satu kebutuhan penting dalam pendidikan vokasi.
Guru harus terus memperbarui kompetensi agar materi yang diberikan kepada siswa tidak tertinggal dari perkembangan industri.
Melalui pelatihan ini, ia berharap para guru mampu mengembangkan pemanfaatan AI secara produktif.
Tidak sekadar mengenalkan aplikasi, tetapi juga mendorong siswa menghasilkan karya kreatif yang memiliki nilai ekonomi sekaligus membawa identitas budaya daerah.
"Diharapkan dengan adanya kompetensi yang diperoleh para guru dapat dikembangkan di sekolah dan memberikan manfaat bagi siswa. Dengan begitu, mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menghasilkan karya kreatif yang memiliki nilai tambah," pungkasnya.
Kepala SMK PGRI 2 Ponorogo, Agus Salim, S.Kom menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya atas capaian berprestasi tersebut.
Menurutnya, inovasi ini menjadi bukti nyata bahwa para tenaga pendidik di SMK PGRI 2 Ponorogo selalu siap beradaptasi dengan perkembangan teknologi industri modern tanpa melupakan kearifan lokal.
"Kami sangat bangga dan mengapresiasi pencapaian Pak Endy. Inovasi ini membuktikan bahwa guru-guru kami terus bergerak aktif mengikuti arus teknologi, khususnya AI, sekaligus memanfaatkannya untuk melestarikan budaya Reog Ponorogo. Harapannya, semangat inovasi ini bisa menular dan menjadi inspirasi bagi para siswa serta seluruh civitas akademika sekolah," apresiasi Agus Salim, S.Kom.
Posting Komentar